Kaya Konten, Industri Kreatif Percepat Pulihkan Ekonomi Indonesia

Salah satu kekuatan utama bangsa Indonesia adalah kebhinekaannya. Ada beragam suku dengan budaya, bahasa, adat istiadat, seni tari, kuliner, dan sebagainya. Kebhinekaan itu tersebar di seluruh pulau di Nusantara.

Kekuatan ini sungguh sangat disadari oleh para pendiri dan pejuang Kemerdekaan Indonesia. Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 adalah bukti, bagaimana mereka menegaskan kekuatan yang menjadi kekahasan Indonesia. Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa.

Namun, 92 tahun setelah peristiwa Sumpah Pemuda, ada pergeseran yang perlu diperhatikan secara serius saat ini. Generasi penerus bangsa Indonesia saat ini memiliki kecenderungan untuk lebih menghargai budaya ‘impor’daripada budaya asli. Muncul gerakan dan paham radikal yang memaksa, seakan lebih baik, lebih benar dan lebih unggul dibanding yang lain. Tantangan kini makin kompleks dengan adanya wabah Covid-19.

Direktur Utama Perum Produksi Film Negara (PFN), Judith J. Dipodiputro, saat membuka serial diskusi CET#19 (Content Every Think) dengan tema “Ïndonesia Pulih, Ekonomi Kreatif Tumbuh”di Jakarta beberapa waktu lalu mengatakan sector yang paling unggul dalam situasi sulit seperti sekarang adalah ekonomi kreatif. Sektor tersebut, kini masih bisa tumbuh sebesar 10,88 persen.

Ia mengatakan, mengungkapkan upaya pemilihan ekonomi Indonesia saat ini ada di tangan generasi muda, wirausaha pemula, start up, para millennial. “Banyak hal dilakukan oleh pemerintah saat ini untuk mendukung start up, terutama bagi para pelaku industri kreatif,”ujar Judith. Di antaranya, pemerintah melalui BUMN Jamkrindo (Jaminan Kredit Indonesia) menyediakan sejumlah bantuan dan fasilitas untuk pengembangan UMKM.

Perum PFN, jelas Judith, untuk menumbuhkan dan mengisi konten kreatif di sector ekonomi kreatif, menyelenggarakan Lomba Podcast jelang Peringatan Sumpah Pemuda. Ekonomi kreatif dengan mengembangkan Podcast sudah dibuktikan berhasil oleh Kantor Berita Radio (KBR), kantor berita radio pertama dan terbesar di Indonesia saat ini.

Pemimpin Redaksi KBR, Citra Dyah Prastuti, mengatakan memanfaatkan plaform digital adalah cara lain untuk bertahan secara bisnis di era sekarang dan hasilnya cukup baik. Hal ini mudah dijangkau oleh siapa saja karena tidak memerlukan biaya besar. “Kuncinya niat dan konsistensi saja,”ujar Citra. Ia mengatakan dalam menjalankan ekonomi kreatif berbasis platform digital, tidak perlu muluk-muluk untuk menjadi besar dari awal.

Pengalaman pendiri Podcast 5Kawan, Rail Mifta Zelira, menunjukkan Indonesia tidak pernah kekurangan konten jika ingin bergerak di sector ekonomi kreatif. Rail bersama dengan empat orang temannya mengembangkan Podcast berbahasa Minangkabau sebagai kekhasan. Hasilnya, sangat memuaskan.

Target pasar mereka hanya orang-orang yang paham dan mengerti Bahasa Minangkabau. Isinya Podcast disesuaikan, misalnya tentang pergaulan generasi muda Minang saat ini, pemahaman generasi muda Minang terhadap budayanya, dan lain-lainnya tentang Orang Minang. “Podcast kami ingin buat orang melek budaya Minang. Orang di rantau kalau kebetulan dengan, bisa nostalgia,”kata Rail.

Rail mengaku tidak pernah kesulitan mendapat konten untuk mengisi Podcast. Sebab di sekitarnya selalu ada hal baru yang terjadi. Ia juga berharap generasi muda di daerah lain bisa melakukan hal yang sama. Tujuannya agar orang-orang makin mencintai budayanya dan tidak terjebak untuk lebih menghargai budaya impor dari luar Indonesia.  

Leave a Comment

Your email address will not be published.