Ngobrol Daring #8: Dari Buku ke Layar Lebar

23 Juli 2020, Perum Produksi Film Negara kembali mengadakan Ngobrol Daring ke-8. Tema dari Ngobrol Daring kali adalah “Dari Buku ke Layar Lebar” dengan narasumber Hanung Bramantyo (Sutradara Film) dan Dewi Dee Lestari (Penulis) dan host oleh Wisnu Triatmojo. 

Ide membuat film bisa datang darimana saja antara lain dari Buku, Novel, Puisi, dll. Hanung Bramantyo sendiri telah menyutradarai beberapa film yang diadaptasi dari sebuah buku, seperti “Perahu Kertas”, “Ayat-Ayat Cinta”, dan “Bumi Manusia” dan Dewi ‘Dee’ Lestari, Penulis buku best-seller yang hampir semua bukunya sudah dijadikan film, seperti “Perahu Kertas”, “Filosofi Kopi”, “Madre”, dan “Rectoverso”.

Dengan mengangkat film dari Buku akan menjadi suatu daya tarik tersendiri bagi penonton. Terlebih buku yang mempunyai intellectual property yang kuat. Sehingga, penggemar buku tersebut akan terdorong untuk menonton film tersebut.

Sebelum difilmkan, buku yang akan difilmkan akan dipastikan oleh seorang Produser bahwa  cerita dalam buku tersebut memiliki sebuah fondasi yang kuat, sehingga seorang produser yakin untuk mengangkat cerita dari sebuah buku menjadi film. Namun, Dee mempertegas bahwa Produksi film tidak bisa serta merta menungkan semuanya dari buku. Karena, setiap detik di film mesti mempertimbangkan budget. Maka, kerja film adalah kerja kolaborasi yangmana jika film berangkat dari buku, maka akan ada perbedaan cara pandang dalam menuangkannya ke dalam film.

Hanung mengatakan bahwa akan ada perbedaan dalam Produksi film dari buku yang isinya berupa curhatan dengan buku yang mempunyai struktur yang kuat. Buku yang berangkat dari curhat penulis akan lebih mudah dalam menuangkannya dalam sebuah film. Sedangkan, film yang berangkat dari buku yang struktur nya kuat membutuhkan penulisan skenario yang kuat juga.          

Dewi mangatakan bahwa menulis skenario film dan menulis buku/novel itu merupakan dua hal yang jauh berbeda. Karena kebetulan Dee pernah melakukan dua hal tersebut. Karena penulisan skenario akan berbicara mengenai durasi dan struktur yang jauh lebih ketat dan rigid. Sementara, ketika menulis buku/novel lebih mengalir dengan di bagi per chapter bab nya. Maka dari itu, efisiensi menulis skenario film sangat penting ilmunya karena semua yang ditulis pada akhirnya akan diuji ke dalam bentuk gerakan. Dewi juga menjelaskan bahwa menulis cerita novel dan skenario untuk film memiliki tingkat kesulitannya masing-masing karena beda tantangannya dari segi proporsi waktu dan teknik menulis nya.

Di penghujung acara, diakhiri dengan pesan-pesan untuk filmmaker muda dan seorang Novelis tidak ada cara lain untuk mampu menulis kecuali terus menulis. Sedangkan Hanung mengatakan tidak ada cara lain untuk menjadi seorang filmmaker selain membuat film. Inti dari perkataan yang disampaikan kedua narasumber tersebut yakni berani untuk memulai dan perbanyak latihan serta melihat banyak referensi, karena saat ini sangat mudah untuk mencari referensi dan mengasah kemampuan.

Leave a Comment

Your email address will not be published.