Kearifan Lokal dan Lokalitas Pada Karya Film

3 Juli 2020, Perum PFN kembali mengadakan Ngobrol Daring ke-enam. Tema yang diangkat dalam Ngobrol Daring kali ini adalah Kearifan Lokal dan Lokalitas pada Karya Film. Lebih khususnya membahas mengenai bagaimana pengalaman para sineas yang terlibat di dalam pembuatan produksi film bersama warga lokal. Ngobrol Daring ini tayang di platform Instagram dan YouTube Perum PFN (@studioPFN) dan Medcom (@medcom.id).

Dipandu pembawa acara yaitu Rita M. Darwis selaku Kadiv Produksi Multiplatform Perum PFN dengan 2 (dua) narasumber yaitu Ifa Isfansyah (Sutradara Film) dan Prisia Nasution (Aktris).

Ifa Isfansyah mengatakan bahwa dalam membuat film harus paham bahwa film itu bukan suatu aktivitas pribadi namun lebih kepada kolektif dikarenakan memiliki banyak aspek dan beragam visi. Selain itu, perlu menetapkan goals dalam membuat film dengan disesuaikan dengan pendekatan tertentu.

Prisia Nasution menyoroti bahwa hal terpenting dalam proses membuat film perlu memperhatikan persiapan dari sisi aktor atau aktirsnya yaitu dengan melakukan riset mendalam yang harus disiapkan sebelum dilakukan syuting. Prisia menceritakan pengalamannya ketika syuting dengan aktor lokal di Film Sang Penari. Prisia justru belajar banyak diantaranya mengenai bagaimana kebiasaan makan, duduk, dan kebiasaan berinteraksi satu sama lain. Sehingga, tercipta penerimaan yang bagus. Dalam setiap syuting di daerah, Prisia selalu menjaga interaksi tidak hanya terbatas pada syuting, namun melakukan pendekatan lebih dalam untuk mempelajari budaya dan adat nya juga.  

Sedangkan ketika syuting Sokola Rimba, Prisia menceritakan hal yang mengesankan adalah proses nya baik dari mendapat kepercayaan dari anak rimba nya sendiri maupun ketika sudah selesai syuting dan harus berpisah. Prisia juga menambahkan bahwa film itu adalah bagaimana cara kita menyampaikan apa yang kita rasakan melalui film agar rasa tersebut dapat sampai ke penonton.

Ifa Isfansyah juga mengatakan bahwa dalam syuting film dengan tema lokal hal yang mengesankan adalah lebih kepada menentukan satu dari banyaknya perspektif dari sebuah film dan berfokus kepada satu perspektif itu saja meskipun perspektif atau aspek lainnya bisa disentuh semua, dan pada intinya kita harus mencari jalan tengah agar orang-orang yang sekarang biasa nonton ke bioskop (khususnya para milenial) bisa mengerti pesan dari film yang ditayangkan.

Ifa Isfansyah juga menjelaskan bahwa film-film dengan tema lokal sepi penonton sebagai kondisi yang wajar dan tidak akan pernah terbalik dan tidak perlu dibalik. Sehingga perlu dipahami bahwa dalam industri film yang dibutuhkan itu adalah arus utama nya agar arus-arus lainnya dapat terbentuk. Ia mengatakan bahwa film-film yang ia buat bukan berarti melawan arus utama maka sepi penonton. Namun, ia mempunyai pangsa pasar tersendiri.

Film-film dengan tema lokalitas mesti terus ditumbuhkan ke depan. Sehingga, dapat menjadi kekuatan Indonesia ke depan sebagai bagian penggerak ekonomi yang kuat.  

Leave a Comment

Your email address will not be published.